Masih banyak orang mendiskreditkan aliran musik tertentu, kenapa?
Sebagai manusia yang diberkahi kenikmatan mendengar oleh Tuhan Yang Maha Esa, kita pasti memiliki pernah memiliki pengalaman rasa nikmat ketika mendengarkan musik. Kenikmatan tersebut tidak terlepas juga dari selera kita masing-masing, sehingga akhirnya memunculkan berbagai macam jenis aliran musik. Aliran musik itu seperti dangdut, rock, metal, dan yang paling banyak di dengar orang yakni pop. Pop sendiri juga terdiri dari beberapa bagian, seperti K-Pop, J-Pop, dan lain-lain.
Namun untuk pihak-pihak yang mempunyai kecenderungan menikmati musik yang anti mainstream, seringkali (atau balik tidak beberapa kali) masih saja mendapatkan stigma buruk dari masyarakat. Untuk genre musik dangdut misalnya, musik ini seringkali diidentikan dengan musik yang kampungan, dan erat dengan pornografi. Selain itu, penulis sebagai penikmat musik metal juga sering merasakan hal yang sama, di mana banyak masyarakat yang menilai musik yang penulis dengan tidak terdengar seperti musik, musik yang tidak jelas, dan lain-lain.
Stigma buruk bukan hanya terjadi pada musik anti mainstream seperti dangdut dan metal, stigma buruk juga bisa tersematkan pada mereka yang menjadi penikmat musik K-Pop yang saat ini sedang naik daun. Mereka sering mendapatkan bullyan karena menyukai K-Pop yang banyak masyarakat nilai artis-artisnya banyak melakukan operasi plastik, sehingga seringkali dilabeli dengan orang yang mengidolakan sesosok plastik.
Melihat adanya fenomena-fenomena tersebut, membuat penulis memikirkan kira-kira apa sebabnya masih banyak masyarakat yang melakukan hal tersebut. Dan di sini penulis akan mencoba menjabarkan beberapa sebabnya menurut pandangan penulis pribadi.
1. Tidak memahami perbedaan etika dan estetika
untuk beberapa kasus, masih banyak masyarakat yang dengan mudah melakukan asosiasi apa yang dia lihat dengan berbagai persepsi buruk yang ada di kepala mereka. Contohnya seperti musik dangdut, karena musik dangdut sering digunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menarik para audiens lelaki, seringkali banyak orang yang memainkan pertunjukan aliran musik ini disertai dengan biduan-biduan yang menggunakan pakaian terbuka. Hal ini membuat banyak orang yang merasa dirugikan jadi tidak suka dengan oknum-oknum tersebut. Sayangnya, tidak semua orang tersebut berpikiran bijaksana, sehingga ada beberapa orang yang melakukan generalisasi bahwa dangdut ini adalah musik yang buruk dan erotis.
Hal yang sama terjadi juga dengan musik metal. Musik metal untuk beberapa orang memang tidak enak didengar karena msuiknya yang cenderung keras. Bahkan oleh beberapa oknum, dalam pertunjukannya seringkali dibarengi dengan pertunjukan-pertunjukan seperti berteman dengan setan, meminum darah, dan melakukan perilaku anarkis. Lagi-lagi untuk pihak-pihak yang tidak sejalan dengan hal itu dan lagi-lagi tidak berpikir bijaksana, akan melakukan generalisasi terhadap musik metal. Hal ini akhirnya membuat stigma bahwa musik metal adalah musik setan, musik yang anarkis, musik yang lekat dengan kekacauan.
Stigma buruk juga tidak lepas dari genre musik pop, dalam hal ini K-Pop. Di industry musik ini, artisnya memang beberapa ada yang melakukan operasi plastik yang ditunjukan untuk menunjang penampilannya. Meskipun tidak semua, tapi negara Korea sudah sangat lekat dengan stigma operasi plastik karena memang industri operasi plastik menjadi salah satu industry terbaik di Korea Selatan. Lagi-lagi, hal ini membuat beberapa orang mungkin iri dan tidak suka dengan budaya operasi plastik tersebut, ada juga yang beranggapan hal tersebut tidak sesuai dengan syariat agama, hingga akhirnya melakukan generalisasi bahwa keseluruhan artis K-Pop telah melakukan operasi plastik. Hingga munculah stigma buruk bahwa artis K-Pop itu plastik.
Padahal bila mau diluruskan, tidak ada hubungannya selera musik dengan para perilaku artisnya di pentas pertunjukan. Selera musik sangat tidak berhubungan dengan perilaku-perilaku buruk para figurannya di lapangan. Selera musik itu estetika yang berhubungan dengan rasa dan selera pribadi, sedangkan penampilannya di lapangan pertunjukan adalah etika. Perlu di garis bawahi juga, lirik lagu tidak termasuk dengan selera musiknya.
2. Tidak memiliki pemikiran yang terbuka
Orang-orang yang membuat stigma-stigma negatif terhadap beberapa aliran musik biasanya juga tidak berpikiran terbuka. Hal ini dikarenakan kebiasaan mendiskreditkan setiap orang yang tidak termasuk dalam kelompok mayoritas (dalam hal ini adalah aliran musik). Seringkali orang-orang yang seperti ini justru akan menimbulkan fanatisme buta dan justru mendewakan seleranya, yang secara tidak langsung mereka juga merendahkan selera lain di luar selera yang mereka miliki.
Sifat seperti ini bisa kita temui di semua kelompok aliran musik. Orang-orang yang sudah subjektif dengan musik metal, biasanya membenci aliran musik dangdut, pop, dan punk. Aliran musik pop tidak mengukai aliran musik dangdut, metal dan punk. Begitu juga selainnya, kembali lagi karena adanya orang-orang yang berpikiran sempit dan menghasilkan orang-orang dengan fanatisme buta.
3. Ingin menjadi sosok yang superior
Tidak jarang, orang-orang yang memberikan stigma-stigma negatif terhadap kelompok musk lain sebabnya adalah karena memang ingin mengejar superioritas. Hal ini penulis temukan pada saat masih aktif dalam sebuah komunitas fans salah satu band metal. Ada beberapa di antara anggotanya yang masuk ke dalam komunitas ini untuk mencari teman dan bisa membuat diri mereka lebih superior di masyarakat, karena mempunyai komunitas yang solid.
Orang-orang seperti ini biasanya akan lebih sering untuk membuat relasi dan membangun fanatisme bersama, sehingga bisa memunculkan kebersamaan yang solid. Dengan begitu, keberadaannya di tengah masyarakat akan lebih superior, karena ia mempunyai kelompok yang solid, dan bisa lebih kuat di tengah lingkungan masyarakat karena ada kelompok yang siap untuk membelanya.
4. Terbawa oleh pandangan dan nilai-nilai lingkungan
Untuk orang-orang jenis ini, dihasilkan dari fenomena pertama, kedua dan ketiga. Dikarenakan mereka tidak memahami perbedaan etika dan estetika, mereka juga tidak berpikiran terbuka, orang-orang ini akan dengan mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang vokal (yang ingin superior) dan bisa memberikan masukan stigma-stigma negatif terhadap orang lain yang berada di luar kelompok mereka.
Karena tidak mempunyai pemahaman yang kuat dan cenderung ikut-ikutan dan mudah terprovokasi, akhirnya ia menelan begitu saja apa yang lingkungannya suarakan meskipun itu salah. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab dari adanya fenomena masyarakat yang mendiskreditkan kelompok-kelompok aliran musik tertentu.
Sekian pendapat penulis tentang adanya fenomena beberapa aliran musik yang didiskreditkan, silahkan tinggalkan masukan di kolom komentar bila ada masukan.
Namun untuk pihak-pihak yang mempunyai kecenderungan menikmati musik yang anti mainstream, seringkali (atau balik tidak beberapa kali) masih saja mendapatkan stigma buruk dari masyarakat. Untuk genre musik dangdut misalnya, musik ini seringkali diidentikan dengan musik yang kampungan, dan erat dengan pornografi. Selain itu, penulis sebagai penikmat musik metal juga sering merasakan hal yang sama, di mana banyak masyarakat yang menilai musik yang penulis dengan tidak terdengar seperti musik, musik yang tidak jelas, dan lain-lain.
Stigma buruk bukan hanya terjadi pada musik anti mainstream seperti dangdut dan metal, stigma buruk juga bisa tersematkan pada mereka yang menjadi penikmat musik K-Pop yang saat ini sedang naik daun. Mereka sering mendapatkan bullyan karena menyukai K-Pop yang banyak masyarakat nilai artis-artisnya banyak melakukan operasi plastik, sehingga seringkali dilabeli dengan orang yang mengidolakan sesosok plastik.
Melihat adanya fenomena-fenomena tersebut, membuat penulis memikirkan kira-kira apa sebabnya masih banyak masyarakat yang melakukan hal tersebut. Dan di sini penulis akan mencoba menjabarkan beberapa sebabnya menurut pandangan penulis pribadi.
1. Tidak memahami perbedaan etika dan estetika
untuk beberapa kasus, masih banyak masyarakat yang dengan mudah melakukan asosiasi apa yang dia lihat dengan berbagai persepsi buruk yang ada di kepala mereka. Contohnya seperti musik dangdut, karena musik dangdut sering digunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menarik para audiens lelaki, seringkali banyak orang yang memainkan pertunjukan aliran musik ini disertai dengan biduan-biduan yang menggunakan pakaian terbuka. Hal ini membuat banyak orang yang merasa dirugikan jadi tidak suka dengan oknum-oknum tersebut. Sayangnya, tidak semua orang tersebut berpikiran bijaksana, sehingga ada beberapa orang yang melakukan generalisasi bahwa dangdut ini adalah musik yang buruk dan erotis.
Hal yang sama terjadi juga dengan musik metal. Musik metal untuk beberapa orang memang tidak enak didengar karena msuiknya yang cenderung keras. Bahkan oleh beberapa oknum, dalam pertunjukannya seringkali dibarengi dengan pertunjukan-pertunjukan seperti berteman dengan setan, meminum darah, dan melakukan perilaku anarkis. Lagi-lagi untuk pihak-pihak yang tidak sejalan dengan hal itu dan lagi-lagi tidak berpikir bijaksana, akan melakukan generalisasi terhadap musik metal. Hal ini akhirnya membuat stigma bahwa musik metal adalah musik setan, musik yang anarkis, musik yang lekat dengan kekacauan.
Stigma buruk juga tidak lepas dari genre musik pop, dalam hal ini K-Pop. Di industry musik ini, artisnya memang beberapa ada yang melakukan operasi plastik yang ditunjukan untuk menunjang penampilannya. Meskipun tidak semua, tapi negara Korea sudah sangat lekat dengan stigma operasi plastik karena memang industri operasi plastik menjadi salah satu industry terbaik di Korea Selatan. Lagi-lagi, hal ini membuat beberapa orang mungkin iri dan tidak suka dengan budaya operasi plastik tersebut, ada juga yang beranggapan hal tersebut tidak sesuai dengan syariat agama, hingga akhirnya melakukan generalisasi bahwa keseluruhan artis K-Pop telah melakukan operasi plastik. Hingga munculah stigma buruk bahwa artis K-Pop itu plastik.
Padahal bila mau diluruskan, tidak ada hubungannya selera musik dengan para perilaku artisnya di pentas pertunjukan. Selera musik sangat tidak berhubungan dengan perilaku-perilaku buruk para figurannya di lapangan. Selera musik itu estetika yang berhubungan dengan rasa dan selera pribadi, sedangkan penampilannya di lapangan pertunjukan adalah etika. Perlu di garis bawahi juga, lirik lagu tidak termasuk dengan selera musiknya.
2. Tidak memiliki pemikiran yang terbuka
Orang-orang yang membuat stigma-stigma negatif terhadap beberapa aliran musik biasanya juga tidak berpikiran terbuka. Hal ini dikarenakan kebiasaan mendiskreditkan setiap orang yang tidak termasuk dalam kelompok mayoritas (dalam hal ini adalah aliran musik). Seringkali orang-orang yang seperti ini justru akan menimbulkan fanatisme buta dan justru mendewakan seleranya, yang secara tidak langsung mereka juga merendahkan selera lain di luar selera yang mereka miliki.
Sifat seperti ini bisa kita temui di semua kelompok aliran musik. Orang-orang yang sudah subjektif dengan musik metal, biasanya membenci aliran musik dangdut, pop, dan punk. Aliran musik pop tidak mengukai aliran musik dangdut, metal dan punk. Begitu juga selainnya, kembali lagi karena adanya orang-orang yang berpikiran sempit dan menghasilkan orang-orang dengan fanatisme buta.
3. Ingin menjadi sosok yang superior
Tidak jarang, orang-orang yang memberikan stigma-stigma negatif terhadap kelompok musk lain sebabnya adalah karena memang ingin mengejar superioritas. Hal ini penulis temukan pada saat masih aktif dalam sebuah komunitas fans salah satu band metal. Ada beberapa di antara anggotanya yang masuk ke dalam komunitas ini untuk mencari teman dan bisa membuat diri mereka lebih superior di masyarakat, karena mempunyai komunitas yang solid.
Orang-orang seperti ini biasanya akan lebih sering untuk membuat relasi dan membangun fanatisme bersama, sehingga bisa memunculkan kebersamaan yang solid. Dengan begitu, keberadaannya di tengah masyarakat akan lebih superior, karena ia mempunyai kelompok yang solid, dan bisa lebih kuat di tengah lingkungan masyarakat karena ada kelompok yang siap untuk membelanya.
4. Terbawa oleh pandangan dan nilai-nilai lingkungan
Untuk orang-orang jenis ini, dihasilkan dari fenomena pertama, kedua dan ketiga. Dikarenakan mereka tidak memahami perbedaan etika dan estetika, mereka juga tidak berpikiran terbuka, orang-orang ini akan dengan mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang vokal (yang ingin superior) dan bisa memberikan masukan stigma-stigma negatif terhadap orang lain yang berada di luar kelompok mereka.
Karena tidak mempunyai pemahaman yang kuat dan cenderung ikut-ikutan dan mudah terprovokasi, akhirnya ia menelan begitu saja apa yang lingkungannya suarakan meskipun itu salah. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab dari adanya fenomena masyarakat yang mendiskreditkan kelompok-kelompok aliran musik tertentu.
Sekian pendapat penulis tentang adanya fenomena beberapa aliran musik yang didiskreditkan, silahkan tinggalkan masukan di kolom komentar bila ada masukan.

Komentar
Posting Komentar