Bullying makin marak, ini tips efektif menghadapinya

Di masa serba teknologi seperti saat ini, memang memiliki banyak keuntungan. Seperti jarak orang-orang jauh yang didekatkan oleh teknologi aplikasi pesan singkat atau video call dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, kebutuhan kesehatan fisik dan mentalpun saat ini bisa diakses melalui aplikasi. Sehingga dalam banyak hal mempermudah kehidupan manusia.

Namun memang sudah hukumnya begini, di mana ada keuntungan di situ juga ada kerugian/resiko yang harus di bayar, salah satu yang hendak penulis bahas di sini adalah masalah pembullyan. Masalah pembullyan memang sudah menjadi masalah umat manusia sejak lama. Pembullyan bisa terjadi pada kalangan mana saja, baik umur, negara, ras, agama, dan lain sebagainya. Untuk orang-orang yang menjadi korban perundungan namun tidak tahu cara mengatasinya dengan tepat, ketika mereka berusaha mengatasi kondisi tersebut justru membawa mereka ke jurang yang lebih dalam lagi dan bisa merusak mental mereka.

Maka di sini penulis hendak membahas, bagaimana cara menghadapi bullying yang efektif, baik dari pengalaman pribadi ataupun referensi orang lain. Namun perlu digaris bawahi di sini, penulis membedakan antara pembullyan dengan kekerasan. Pembullyan penulis maknai sebagai aktifitas kekerasan verbal, sedangkan kekerasan lebih penulis identikan dengan kekerasa fisik seperti pemukulan.

1. Besikap bodo amat
Perlu diketahui terlebih dahulu, ada respon alamiah dalam diri sesesorang bahwa seseorang selalu ingin menjadi yang terbaik. Untuk pihak-pihak tertentu, mereka perlu menjadi orang terbaik dalam lingkungannya dengan cara yang instan. Daripada mereka harus membuat prestasi yang membutuhkan pengorbanan dan proses yang panjang, mereka lebih suka membuat diri mereka seakan berada di atas orang lain.

Untuk bisa melakukan tersebut, mereka akan dengan sengaja mencari orang-orang yang sekiranya memang bisa mereka intimidasi dan kalahkan (dalam konteks ini psikologisnya). Bila mereka bisa membuat orang lain merasa terganggu oleh gangguang mereka, justru mereka akan merasa mereka dapat menguasai psikologis orang lain dengan gangguan mereka, dan itu menyenangkan bagi mereka. Kesenangan ini bukan hanya karena mereka berhasil membuat korban merasa terganggu, melainkan juga biasanya mereka akan mencoba mengajak orang lain agar memperhatikan hal yang sedang ia lakukan. Sehingga semakin korban merasa terganggu, semakin pula orang lain disekitarnya memperhatikan. Ini akan menjadi dukungan moral positif bagi sang pembully karena dia merasa menang dalam situasi yang diperhatikan ini.

Berbeda bila bersikap bodo amat. Bila orang yang di bully bersikap bodo amat, orang yang membully akan merasa gangguan yang dia lontarkan bukanlah gangguan bagi orang ini. Akhirnya karena tidak ada hal yang menarik dari situ, dia tidak akan bisa mencari perhatian masyarakat sekitar dari situ, maka secara tidak langsung lama-kelamaan dia akan melepaskan orang yang dibully ini dari bullyannya. Namun bila bully ini berlanjut pada kekerasan fisik, maka korban wajib melawan (bukan dengan berkelahi), jika tidak akan terjadi hal yang lebih parah. Melawan di sini bisa dengan cara-cara yang dapat membuat pembully jera. Seperti hukuman sekolah apabila masih sekolah, Drop Out, hukuman sosial, atau bahkan penjara.

2. Jangan menunjukan perasaan takut, malu, atau bersalah
Kembali pada prinsip yang telah dijelaskan pada point pertama. Yang paling penting adalah tidak merespon apapun yang dilontarkan si pembully, karena yang mereka butuhkan itu adalah perhatian publik agar mereka mendapatkan pengakuan sebagai orang yang hebat. Bila para korban tidak menunjukan respon yang berarti untuk mereka, mereka tidak akan tertarik lagi untuk mengganggu para korban.

3. Bicara pada orang yang dapat dipercaya
Tidak dapat dipungkiri, dibully bukanlah suatu hal yang menyenangkan, bahkan bisa jadi pada penderitaan yang cukup dalam. Karena harga diri dan juga kepercayaan diri yang menjadi substansi dari eksistensi manusia tergoyahkan di situ. Maka tetap perlu ada bantuan eksternal yang dapat dipercaya untuk dapat membantu para korban bully ini meyakini bahwa dirinya itu sama baiknya dengan anak-anak yang lain dan tetap mempunyai percaya diri yang cukup untuk perkembangannya ke depan. Selain itu juga, bercerita pada orang yang dapat dipercaya dapat membantu apabila perilaku bully sudah sampai ke tahap fisik. Pembullyan fisik memang tidak bisa dibiarkan, namun bukan berarti harus dibalas dengan saling berkelahi. Selain akan membuat kedua pihak terluka, hal ini juga akan membuat citra dari kedua pihak buruk. Maka berbicara pada orang yang tepat dan dapat dipercaya untuk dapat menghentikan situasi ini dapat menjadi solusi terbaik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunis Bukanlah Sama Rata & Sama Rasa (Meluruskan Asumsi Tentang Komunis)

Pentingnya Menepati Sebuah Janji

Kenapa Valentino Rossi Memilih Nomor 46 Sebagai Nomor Balap Motornya?