Kesalahan masyarakat umum, menyamakan etika dan estetika
Beberapa hari yang lalu, penulis menemui sebuah postingan sebuah akun Instagram yang me-repost postingan tweet dari Fiersa Besari, yang bentuk tweetnya seperti berikut :
Beberapa masyarakat ada yang sudah paham dengan isi dari tweet ini, namun ada beberapa orang juga yang “gagal paham” akan postingan ini. Salah satu bentuk kesalahpahaman tersebut dapat penulis temui dalam sebuah komentar dari netizen di postingan akun Instagram tersebut. Bentuk komentarnya tidak bisa penulis tunjukan di sini karena bahasa “jorok” dan juga “kasar”, selain itu juga untuk menjaga nama baik dari netizen yang berkomentar tersebut. Namun kira-kira inti dari komentar tersebut seperti ini “terus gimana sama orang yang males-malesan? Gimana sama orang yang seleranya make baju yang serba terbuka dan ga senonoh? Gimana sama orang suka nonton film biru? Mikir dong”.
Melihat komentar tersebut membuat penulis menyadari, bahwa ada kelompok orang yang masih belum bisa membedakan antara etika dan juga estetika. Maka untuk menjawab kesalahan dari komentar orang tersebut, di sini penulis akan mencoba untuk membedah terlebih dahulu pengertian etika dan estetika, yang nantinya bisa dijadikan sebagai pisau analisa untuk menilai apakah komentar yang diungkapkan oleh netizen tersebut sudah tepat atau belum.
Pengertian etika
Disini penulis akan menggunakan beberapa referensi untuk mengetahui pengertian etika, baik dari para ahli maupun kebahasaan.
KBBI
Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)
Poerwadarminto
Menurut Poerwadarminto, arti etika adalah ilmu pengetahuan tentang suatu perilaku atau perbuatan manusia yang dilihat dari sisi baik dan buruknya yang sejauh mana dapat ditentukan oleh akal manusia.
Drs. H. Burhanudin Salam
Menurut Drs. H. Burhanudin Salam, etika adalah sebuah cabang ilmu filsafat yang membicarakan perihal suatu nilai-nilai serta norma yang dapat menentukan suatu perilaku manusia ke dalam kehidupannya.
K. Bertens
Menurut K. Bertens, definisi etika adalah nilai dan norma moral yang menjadi suatu acuan bagi umat manusia secara baik secara individual atau kelompok dalam mengatur semua tingkah lakunya.
Kesimpulan pengertian etika
Dari beberapa pengertian menurut para ahli dan KBBI, bisa ditarik kesamaan bahwa Etika sangat berkaitan dengan penilaian baik atau buruknya perilaku manusia yang dihasilkan dari akal budinya. Baik dan buruk sendiri bisa dilihat dari efek yang ditimbulkan oleh perilaku yang dilakukan manusia, apabila suatu perilaku yang dilakukan manusia membawa efek merugikan dan memberikan efek penderitaan baik untuk diri sendiri dan juga orang banyak, maka perilaku tersebut dikategorikan sebagai perilaku yang buruk. Namun apabila suatu perilaku justru menghasilkan efek dimana dia sendiri atau orang banyak di sekitarnya merasakan kebahagiaan, kenyamanan secara langsung dan tak langsungnya, maka perilaku tersebut dikategorikan sebagai perilaku yang baik.
Pengertian estetika
Sama seperti ketika mencari pengertian dari etika, di sini penulis juga akan mencari makna estetika dari beberapa referensi sumber melalui kebahasaan dan juga para ahli.
Kebahasaan
Menurut KBBI estetika adalah cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya. Estetika juga berarti kepekaan terhadap seni dan keindahan
Estetika sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni aestheticus atau juga Yunani yakni aestheticos, yang artinya adalah merasakan hal-hal yang dapat diserap oleh panca indera manusia.
Dra. Artini Kusmiati
Pengertiak estetika ialahsuatu keadaan yang berhubungan dengan sensasi keindahan yang barubisa dirasakan seseorang jika terjalin perpaduan yang harmonis antara elemen yang ada dalam suatu obek.
AA Djelantik
Dalam Estetika Terapan, 1989 disebutkan estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek yang disebut keindahan.
Jhon Hosper
Dalam Estetika Terapan, 1989 estetika merupakan cabang filsafat yang berkaitan dengan proses penciptaan karya estetis.
Kesimpulan pengertian estetika
Dari sini penulis menyimpulkan, bahwa pengertian estetika adalah suatu ilmu filsafat yang berbicara mengenai penilain indah atau tidak indahnya (jelek) suatu objek yang hendak dinilai.
Perbedaan etika dan juga estetika
Dari uraian di atas, maka Perbedaan Etika dan Estetika adalah sebagai berikut:
1. Etika - terkait nilai baik dan buruk dalam perilaku.
2. Estetika - terkait keindahan; indah atau jelek.
Dengan demikian, etika membahas masalah tingkah laku perbuatan manusia (baik dan buruk). Estetika membahas tentang indah atau tidaknya sesuatu. Estetika berkaitan dengan nilai indah-jelek (tidak indah). Nilai estetika berarti nilai tentang keindahan.
Penilaian komentar netizen terhadap tweet Fiersa Besari
Identifikasi jenis ranah yang dibahas oleh Fiersa Besari
Untuk bisa menilai komentar ini, kita perlu terlebih dahulu mengenali, kira-kira apa yang sedang dibahas oleh Fiersa Besari dalam tweetnya. Disini Fiersa Besari membahas mengenai kesukaan seseorang yang tidak bisa disamakan dengan kesukaan orang lain, kesukaan ini didasarkan pada aspek selera. Selera mempunyai kesamaan kata yakni adalah cita rasa, yang berarti lebih mengarah kepada aspek indah dan tidak indah, karena berkaitan dengan rasa. Maka bisa disimpulkan, bahwa tweet yang diungkapkan oleh Fiersa Besari ini masuk kedalam ranah pembahasan estetika, bukan etika.
Identifikasi jenis ranah yang dibahas oleh komentar netizen
Sedangkan untuk komentar netizen, di situ berbicara mengenai orang yang malas-malasan, menggunakan baju tidak senonoh, dan juga menonton film biru. Dari sini bisa kita bedah satu persatu. Untuk kata “malas-malasan” berasal dari kata “malas” yang dalam KBBI memiliki arti “tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu”. Dari sini kata “malas-malasan” bisa kita masukan kedalam kelompok suatu aktifitas yang dilakukan manusia. Sedangkan untuk menggunakan baju, disitu ada kata “menggunakan” yang menunjukan sedang melakukan aktifitas. Dan untuk kalimat “menonton film biru” disini juga ada kata “menonton” yang menunjukan sebuah aktifitas. Karena hal yang dia bahasa adalah sebuah aktifitas yang juga bermakna lain sebagai perilaku, maka bisa kita nilai bahwa apa yang dibahas oleh netizen ini berada pada ranah etika, bukan estetika.
Komentar netizen, tepat sasaran atau tidak?
Jika melihat pada pembahasan kita di atas, maka bisa dibilang bahwa komentar netizen tersebut tidak tetpat sasaran. Karena apa yang dibahas oleh Fiersa Besari berada pada ranah estetika, sedangkan yang dibahas oleh netizen, berada pada ranah etika.
Tambahan
Nilai dasar etika dan estetika. Etika Objektif, Estetika Subjektif
Etika bisa mempunyai nilai yang universal, karena etika bertolak ukur pada efek dan juga akibat dari perilaku yang setiap orang lakukan, ketika membawa kebahagiaan untuk dirinya dan orang lain baik saat itu dan jangka panjang, maka nilainya baik. Begitu juga sebaliknya, apabila efek/akibat perilakunya membawa akibat yang membuat orang itu sendiri atau masyarakat lainnya menderita baik saat itu ataupun jangka panjang, maka nilai perilakunya adalah buruk. Maka dari sini perilaku seseorang tidak bisa disandarkan pada standart subjektif, karena setiap perilakunya bisa membawa efek pada lingkup sosial, sehingga orang lain pun bisa menilai apakah perilaku yang dilakukan seseorang tersebut adalah baik atau buruk
Sedangkan untuk estetika seringkali tidak bernilai universal, karena merujuk pada inderanya masing-masing, sehingga yang bisa merasakan efeknya hanyalah dia sendiri. Contohnya, seperti ketika ada orang yang suka rasa durian dan ada juga yang tidak suka rasa durian. Secara penilaian rasa, tidak bisa ada yang menyalahkan salah satu dari kedua pendapat tersebut, karena masing-masing merasakan dampaknya untuk diri mereka masing-masing. Begitu juga dengan hal yang dilihat, ada yang suka dengan bentuk mobil jepang ada juga yang suka bentuk mobil eropa. Selera mobil ini tidak bisa disalahkan salah satu diantara keduanya, karena yang bisa merasakan kenyamanan atas penglihatan mereka adalah masing-masing orang tersebut.
Pada suatu kondisi terkadang estetika bergabung dengan etika, lalu bagaimana cara menilainya?
Betul, terkadang estetika bisa saja terlihat menyatu dengan etika. Contohnya adalah seperti ketika ada orang yang menggunakan pakaian serba terbuka kemudian ditergur oleh masyarakat, namun kemudian membuat dalih bahwa dia menggunakan pakaian terbuka karena memang seleranya adalah yang seperti itu, dia suka menggunakan pakaian terbuka.
Disini, bisa kita lihat bahwa etika dan estetika terkadang bisa berada pada satu kondisi yang Bersatu. Namun, sebenarnya masih bisa kita pisahkan dalam penilaian. Sebenarnya dalam aktifitas orang yang menggunakan baju serba terbuka dan tidak senonoh ini bisa kita runtut secara rentang waktu proses dari persepsinya mengenai baju terbuka hingga keputusannya untuk menggunakan baju tersebut.
Bila kita runtut, ada sebuah proses sebelum terjadinya aktifitas menggunakan baju tersebut. Yakni sebelumnya pasti orang tersebut mempunyai persepsi terhadap bentuk dari pakaian yang terbuka, disinilah ranah estetika, dia bisa saja menyukai bentuk baju tersebut tanpa harus menggunakannya. Jika dia hanya sekedar menyukai bentuk baju tanpa menggunakannya, maka efek yang terjadi hanya pada dirinya sendiri, dimana dia merasakan kesenangan ketika melihat bentuk baju yang seperti itu, tidak ada efek lain terhadap orang lain di luar dirinya. Namun untuk sampai ke tahap dia memutuskan untuk menggunakan baju tersebut, maka ini sudah masuk kedalam ranah etika, karena dengan menggunakan baju tersebut, yang merasakan efeknya bukan hanya dia sendiri, tapi juga orang lain yang melihatnya. Dimana bisa berefek bisa saja ada yang terangsang melihat cara berpakaian yang seperti itu, sehingga berpotensi menciptakan adanya kejadian kriminal yang tentunya tidak diinginkan oleh siapapun dan berdampak merugikan, sehingga bisa dinilai buruk.
Sehingga, pada kondisi etika dan estetika yang bercampur pada suatu kejadianpun masih bisa kita pisahkan, dan nilai satu persatu. Sehingga mulai sekarang, kita bisa mengambil sikap tidak mudah untuk menilai buruk seseorang bila itu ranahnya adalah estetika, dan juga tidak mudah seenaknya melakukan pembelaan diri dengan dalih “selera” bila ranah perilakunya adalah etika.
Semoga bermanfaat…

Komentar
Posting Komentar