“Jadilah Diri Sendiri” (berusaha otentik atau sekedar dalih?)

Latar Belakang
Beberapa tahun terakhir, penulis melihat sedang banyak orang-orang yang mengkampanyekan kalimat “jadilah diri sendiri”. kampanye-kampanye ini penulis lihat digalakan oleh beberapa selebgram, youtuber, bahkan juga brand-brand yang bisa menjangkau banyak masyarkat. Kampanye “jadilah diri sendiri” ini juga sepertinya sudah diterima banyak kalangan masyarakat, khususnya para remaja yang masih mencari jati diri.

Contoh riil yang bisa penulis temui adalah salah satu rapper yang beberapa tahun lalu sempat viral melalui lagu yang sebagian liriknya menyuarakan untuk menolak pencitraan dan membenarkan kenakalan selama masih dalam batas wajar. Pengaruh buruk dari adanya lagu ini bisa penulis rasakan pada adik penulis sendiri, yang pernah membangkang orang tua karena merasa yang bertanggung jawab atas dirinya adalah dirinya sendiri dan orang lain tidak berhak untuk mengaturnya.

Maraknya pemikiran ini juga bisa penulis lihat dari satu perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi yang menggunakan jargon untuk berani menjalani hidup apa adanya, tanpa dibatasi untuk menjadi apapun yang diinginkan. Dan masih banyak pemikiran serupa yang dapat penulis temui dari media sosial ataupun lingkungan masyarakat secara langsung.

Adanya pemikiran tersebut justru menggambarkan beberapa kalangan memaknai bahwa menjadi diri sendiri adalah suatu usaha untuk menjadi apapun yang diinginkan selama itu nyaman untuk dirinya sendiri, tanpa mendengarkan segala masukan orang lain, entah masukan itu bersifat baik atau buruk. Apabila di kritik dengan masukan yang membangun, beberapa di antaranya biasanya justru membalas bahwa mereka sendirilah yang menjalani hidup, orang lain tidak berhak mengurusi hidup mereka. Atau juga mengatakan bahwa itulah diri mereka yang asli, jika suka silahkan terima, jika tidak maka tinggalkan.

Melihat hal tersebut akhirnya membuat pertanyaan dalam diri penulis, apakah menjadi diri sendiri bermakna bebas menjadi apapun yang dia mau? Apakah menjadi diri sendiri bermakna harus menerima diri apa adanya meskipun hal tersebut negatif dan tidak perlu menerima masukan dari orang lain?

Maka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dalam tulisan ini penulis akan membahas bagaimana seharusnya konsep “menjadi diri sendiri” berdasarkan pada latar belakang misi manusia dan sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia.

Misi penciptaan manusia
Untuk mengetahui apa misi penciptaan manusia, tentu kita harus mencarinya ke sumber yang menciptakan manusia itu sendiri. Maka untuk Untuk mengetahui apa misi penciptaan manusia, bisa kita lihat dalam Al Quran.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 30 disebutkan “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"”.

Tugas manusia sebagai khalifah ini bisa kita temukan lebih jelas pada ayat-ayat lain, seperti yang tertera pada surat Shaad ayat 26 yang memerintahkan Nabi Daud untuk melakukan pengaturan kepada manusia dengan adil dan jangan mengikuti hawa nafsu agar tidak keluar dari jalan yang dikehendaki oleh Allah.

Ayat ini menunjukan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai Khalifah fungsinya adalah untuk membuat pengaturan kepada manusia secara adil dan tanpa mengikuti hawa nafsu agar tidak keluar dari jalan yang Allah kehendaki.

Sebagaimana juga dituliskan dalam buku karya Iskandar Al-Warisy dengan judul “Merencanakan Masa Depan Akhirat Lewat Profesi Pembangunan Masyarakat” pada halaman 223, disebutkan bahwa misi penciptaan manusia adalah untuk melakukan perbaikan masyarakat di bumi.

Sebagai seorang manusia, tentu misi pembangunan masyarakat ini haruslah menjadi tujuan dari setiap perilaku yang dilakukan oleh manusia. Sehingga untuk menjadi diri sendiripun seseorang tidak boleh melupakan latar belakang dan tujuan diciptakannya manusia, yakni sebagai seorang khalifah untuk membangun masyarakat yang baik secara adil dan seimbang berdasarkan hukum-hukum Allah yang universal.

Sifat-sifat manusia
Manusia adalah makhluk yang diberkahi akal untuk dapat memikirkan segala hal-hal yang diinderanya. Melalui kemampuan berpikir itu, manusia dapat menemukan kebenaran yang bisa dijadikannya patokan dalam menjalani kehidupan. Selain kemampuan menemukan kebenaran, dengan akalnya, manusia juga dapat membedakan kebaikan dengan keburukan. Manusia dapat menilai baik buruk, karena manusia dapat memprediksi dampak dari perilaku yang akan dan/atau sedang dia lakukan.

Namun meskipun memiliki akal yang dapat mengantarkan manusia pada kebenaran dan dapat membedakan baik buruk, tetap saja kemampuan akal manusia bisa memiliki batasan. Kebenaran dari hasil pemikiran yang dihasilkan sangat bergantung pada data yang dimilikinya. Tidak menutup kemungkinan, hasil pemikiran seseorang bisa salah meskipun sudah menggunakan pertimbangan rasional. Hal ini bisa terjadi jika data-data yang digunakan untuk membuat kesimpulan salah ataupun kurang.

Selain itu, manusia juga merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan lingkungan masyarakat sekitar. Sehingga apapun yang seseorang lakukan, pasti akan memberikan dampak terhadap lingkungan sosialnya. Begitu juga sebaliknya, untuk bisa bertahan hidup, seseorang harus berinteraksi dengan orang lain diluar dirinya. Setidak peduli apapun seseorang terhadap orang lain, ia tidak akan bisa menghindari hukum-hukum kehidupan manusia untuk senantiasa mempengaruhi dan dipengaruhi.

Melihat hal tersebut, tentu manusia tidak bisa hanya mengandalkan dan mendengarkan dirinya sendiri tanpa masukan orang, baik untuk berkarya ataupun hanya untuk sekedar menjalani hidup sebagai makhluk soial, mengingat bahwa manusia sendiri bisa melakukan kesalahan. Jika kesalahan tersebut dibiarkan dan dipertahankan, maka tentu akan memberikan dampak buruk terhadap lingkungan sosial, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Keseimbangan dalam menjadi diri sendiri
Menjadi diri sendiri memang sebuah hal yang harus dilakukan oleh setiap orang, mengingat bahwa setiap orang mempunyai sisi keunikannya masing-masing. Menjadi otentik bahkan sangat diperlukan dalam dunia karir untuk membangun citra yang baik pada setiap personalnya. Apabila citra positif yang otentik bisa didapatkan, maka banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh personal tersebut, seperti halnya akan dikenal orang-orang karena mempunyai keunggulan yang spesifik. Sebaliknya, tanpa menjadi otentik seseorang bisa saja di cap sebagai seorang plagiat.

Namun, otentik bukan berarti tidak menerima masukan sama sekali, tidak berarti juga selalu meminta orang lain untuk menerima dirinya apa adanya meskipun apa yang dilakukannya salah. Mengingat bahwa meskipun manusia mempunyai akal dan keunikan yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan karya-karya otentik atau juga hanya sekedar berinteraksi dengan gayanya sendiri, tapi tidak bisa dipungkiri juga bahwa manusia bisa berpeluang untuk melakukan kesalahan. Dan apabila manusia melakukan sebuah kesalahan, tentu saja akan berpengaruh buruk terhadap lingkungan sosialnya.

Perlu diingat juga bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang mempunyai akal dan mempunyai misi untuk membangun masyarakat yang baik. Sehingga meskipun ingin menonjolkan sisi otentik, segala upaya yang dilakukan manusia baik dalam interaksi ataupun dalam karya idealnya tetap perlu selalu diarahkan untuk pembangunan masyarakat, tidak bisa lepas begitu saja dari misi ini dengan dalih “setiap orang bebas ingin menjadi apapun yang dia inginkan”.

Karena tujuan manusia adalah untuk membangun masyarakat menjadi baik, maka segala potensi dan sifat-sifat manusia harus dimaksimalkan untuk mengejar tujuan tersebut. Potensi akal dan posisi sebagai makhluk sosial bisa dimaksimalkan untuk pembangunan masyarakat dengan terus memikirkan cara-cara terbaik yang efektif dan efisien dalam pembangunan masyarakat dan juga senantiasa berusaha untuk selalu menjadi lebih baik dan mengevaluasi diri jika ada kekurangan yang telah dilakukan sebelumnya.

Kegiatan evaluasi baru bisa dilakukan ketika seseorang tersebut mau terbuka akan masukan-masukan berupa kritik dan saran yang membangun ataupun dengan cara melakukan pengamatan mandiri terhadap kekurangan dari perilaku sebelumnya. Masukan-masukan ini tentu saja berasal dari lingkungan sosial, tidak bisa tiba-tiba muncul begitu saja tanpa proses membandingkan dengan kondisi lingkungan diluar dirinya.

Melihat realitas bahwa ada beberapa orang yang tidak mau menerima masukan atas kekurangan-kekurangannya dengan dalih ingin menjadi diri sendiri, tentu hal ini tidak bisa dibenarkan. Mengingat bahwa tujuan manusia adalah untuk membangun masyarakat. Dengan potensi akal dan posisinya sebagai makhluk sosial, sudah seharusnya manusia terus berbenah memperbaiki diri untuk menunjang pembangunan masyarakat, sehingga evaluasi menjadi mutlak hukumnya.

Maka menurut penulis, untuk menjadi diri sendiri secara seimbang, tetap perlu menonjolkan sisi otentik dan kecenderungan yang dimiliki. Namun harus tetap terbuka atas setiap kritik membangun yang diberikan masyarakat dan mau untuk memperbaiki setiap kekurangan yang masih kita miliki tanpa merubah jati diri kita sendiri. Sehingga dengan demikian akan terciptalah sosok personal yang otentik namun tetap bisa diterima dan bermanfaat untuk masyarakat.

Kesimpulan
Sehingga dari pembahasan yang sudah dipaparkan di atas penulis menyimpulkan beberapa point, Yaitu :

1. Dalam menjadi diri sendiri tetap perlu memperhatikan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk yang berakal. Sehingga apapun yang dilakukan nantinya tidak boleh bertentangan dengan misi penciptaan manusia sebagai khalifah fil ard dan juga sifat-sifat dasar manusia sebagai makhluk berakal yang juga tetap bisa salah dan juga makhluk sosial.

2. Meskipun manusia mempunyai sisi keunikan masing-masing, dan mempunyai hak untuk menunjukan jati dirinya secara otentik, akan tetapi manusia juga memempunyai misi untuk membangun masyarakat. Sehingga, apapun yang dilakukan hendaknya mempertimbangkan dampak dan kontribusinya terhadap pembangunan masyarakat. Sebebas-bebasnya manusia, tetap tidak memisahkan tanggung jawab sebagai khalifah fil ard.

3. Untuk dapat memaksimalkan sifat-sifat manusia sebagai makhluk sosial dan berakal terhadap pembangunan masyarakat. Maka seseorang tetap perlu untuk melakukan evaluasi agar bisa senantiasa lebih baik dan dapat menemukan inovasi-inovasi baru untuk pembangunan masyarakat. Evaluasi tidak akan bisa dilakukan jika seseorang tersebut bersikeras tidak mau memperbaiki kekurangannya dan tidak mau menerima masukan orang lain. Karena akal bisa bekerja secara maksimal jika mendapatkan data-data dan data ini tentu bisa didapatkan dari lingkungan sosial (baik berupa pengamatan atau masukan dan kritik) bukan dari dirinya sendiri.

4. Jika tidak memperhatikan aspek misi penciptaan dan sifat manusia, maka menjadi diri sendiri hanyalah sekedar dalih untuk mewadahi kepentingan hawa nafsunya.

Komentar

  1. memamg manusia harus jadi diri sendiri

    BalasHapus
  2. Seperti membaca isi makalah. Entahlah...walau sudah lama tak bercengkerama dengan Si Makalah ini tetap saja masih belum nyaman hhe

    Padahal....sudah berteman 2 tahun.

    Oh iya jadi salfok. Tujuan kita hidup yang 2 itu, khalifatun fil ard & abdullaah memang jadi pengingat.

    BalasHapus
  3. be my self ... to be .... jadilah diri sendiri dan hargai diri sendiri agar menjadi lebih ...

    BalasHapus
  4. Pembahasan yang berbeda dari blog yang pernah saya baca. Cukup otentik juga, dimulai dari rumusan masalah

    BalasHapus
  5. Mengcounter publik opini deng narasi yang bagus dan argumen yang logis. Keren.

    BalasHapus
  6. Keren kak. Maasya Allah. Terus semangat menebar kebaikan dan manfaat kak

    BalasHapus
  7. Dibacanya kudu berluang-ulang kali nih kak. Udah lama nggak baca sesuatu yang berat. Ilmu baru banget, selain tentang teorinya juga tentang gaya penulisannya. Suka banget, terkesan profesional, formal tapi masih friendly.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunis Bukanlah Sama Rata & Sama Rasa (Meluruskan Asumsi Tentang Komunis)

Pentingnya Menepati Sebuah Janji

Kenapa Valentino Rossi Memilih Nomor 46 Sebagai Nomor Balap Motornya?