Bahaya dari kesalahan memaknai kalimat “menghabiskan jatah gagal”

Pendahuluan
Beberapa waktu lalu, penulis menemui sebuah quotes yang dikutip dari perkataan Pak Dahlan Iskan oleh salah satu akun Instagram. Quotes tersebut bertuliskan “Setiap orang punya jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu ketika masih muda”. Melihat quotes dari Pak Dahlan Iskan ini membuat penulis teringat beberapa teman dan juga saudara penulis yang pernah berucap kalimat dengan inti yang sama, yakni “setiap orang mempunyai jatah gagal, dan jatah gagal itu sebaiknya dihabiskan selagi kita muda”.

Melihat beberapa orang di sekitar penulis mengungkapkan hal yang sama dengan Pak Dahlan Iskan, membuat penulis menyadari bahwa kalimat quotes ini sudah banyak diamini atau bahkan juga diterapkan oleh banyak masyarakat terkhusus di Indonesia. Namun di lain sisi penulis bertanya-tanya, apa benar maksud dari kalimat “menghabiskan jatah gagal” adalah sebagaimana yang teksnya maksud dengan kata lain apakah teks ini bisa dimaknai sebatas tekstual saja, atau mungkin sebenarnya ada maksud lain dari teks ini? Maka di sini penulis akan mencoba membahas makna sebenarnya dari sudut pandang penulis.

Dialektika terhadap kalimat “menghabiskan jatah gagal”
Ketika mendengar kalimat ini penulis merasa keheranan, apa benar gagal itu ada jatahnya? Karena dari beberapa pihak yang penulis temui, “menghabiskan jatah gagal” yang mereka praktekan adalah sebagaimana yang kalimat itu ucapkan, benar-benar murni menganggap bahwa gagal itu ada jatahnya, yang artinya sewaktu-waktu bisa habis. Salah satu teman penulis yang menganut paham “menghabiskan jatah gagal” secara tekstual ini meyakini bahwa gagal itu ada jatahnya, dan ketika jatah gagal itu habis, dia akan selalu sukses. Pemahamannya ini juga didukung oleh aksi nyatanya dimana dia mencoba melakukan segala hal yang bisa dibilang tanpa persiapan yang matang, tentu saja aksi tersebut merupakan efek dari pemahamannya yang mana gagal itu memiliki jatah dan bisa habis.

Dengan melakukan segala hal tanpa persiapan yang matang itu, dia berharap bahwa suatu hari ketika jatah gagalnya benar-benar sudah habis, dia akan selalu sukses. Pendapat dan perilaku yang teman penulis tunjukan tersebut membuat penulis mengerungkan dahi dan berpikir, “jika jatah gagal ada batasnya, lalu untuk apa manusia mempunyai akal? Untuk apa Allah SWT memerintahkan manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya lebih sering daripada perintah untuk sholat di dalam Al-Qur’an? Untuk apa Allah membuat sunnatullah (hukum alam), dan untuk apa manusia belajar jika pada akhirnya semua bergantung pada jatah gagal?”.

Dialektika-dialektika tersebut membuat penulis semakin yakin, bahwa makna dari kalimat “menghabiskan jatah gagal” bukan sebagaimana makna tekstualnya, melainkan pasti ada makna lain dari teks ini, sebagaimana teks-teks lain yang mempunyai makna konotasi dan denotasi. Penulis berpikir bahwa teks ini bukanlah makna sesungguhnya. Penulis bisa samakan teks ini seperti teks legend yakni “berenang sambil minum air”, yang tentu saja maknanya bukan sebenar-benarnya ada orang yang sengaja untuk berenang sambil meminum air, melainkan teks ini adalah sebuah majas, begitu juga dengan teks “menghabiskan jatah gagal” yang mana juga adalah sebuah majas atau gaya bahasa. Sebagai mana juga kalimat “menyelam sambil minum air” yang mempunyai makna asli yakni melakukan dua hal sekaligus dalam satu kesempatan, penulis juga yakin bahwa kalimat “menghabiskan jatah gagal” mempunyai makna sesungguhnya, maka disini penulis berusaha mencari makna sesungguhnya dari kalimat ini.

Mencari makna sesungguhnya dari kalimat “menghabiskan jatah gagal”
Proses penulis mencari makna sesungguhnya dari kalimat ini adalah dengan melihat efek dari kalimat ini. Efek dari kalimat ini yang berhasil penulis temui adalah orang-orang yang akhirnya tidak takut gagal, dan selalu berani dan mau untuk mencoba lagi. Dari efek ini penulis menemukan bahwa pembuat quotes memaksudkan agar orang-orang yang membaca ini tidak takut untuk gagal, dan mau untuk berusaha kembali, karena yakin setelahnya mereka pasti akan sukses. Namun masih ada beberapa pertanyaan dalam diri penulis, kenapa pembuat quotes mengatakak kalimat tersebut dengan diksi “jatah” yang bermakna kegagalan itu ada batasnya? Padahal penulis juga banyak menemui realitas orang-orang yang terus berusaha namun tetap gagal sampai akhirnya jatuh miskin dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Lalu, dimana batasnya? Kenapa orang yang sudah benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa lagi pun masih belum kehabisan jatah gagalnya?

Setelah melalui beberapa dialektika dan pengamatan terhadap realitas orang-orang yang sukses, mayoritas dari mereka tidak berjuang tanpa strategi dan persiapan yang matang. Orang-orang ini memang berkali-kali gagal, namun mereka tidak pernah melakukan hal yang sama pada kesempatan yang sama, karena jika hal itu dilakukan tidak ada kesempatan untuk berhasil, hasil yang sama yakni kegagalan dipastikan menanti di depan. Mereka terus mencoba dan mencoba lagi dengan terlebih dahulu mempelajari perilaku mereka yang sebelumnya, mereka mencoba mencari tahu kesalahan apa yang mereka lakukan sebelumnya, dan mencoba tidak mengulanginya di percobaan selanjutnya. Begitu seterusnya sampai akhirnya mereka berhasil mengidentifikasi semua potensi kesalahan dan tidak melakukan kesalahan-kesalahan tersebut pada perobaan terakhir dan akhirnya mencapai kesuksesan.

Maka setelah mengamati realitas orang-orang yang berhasil tersebut, penulis menemukan kesamaan antara kalimat “menghabiskan jatah gagal” dengan perilaku dari orang-orang sukses. Yakni mereka yang sudah sukses secara tidak langsung memang “menghabiskan jatah gagal” mereka, namun bukan dengan cara yang sembrono dan tanpa persiapan yang matang. Mereka tanpa kenal menyerah tersebut mencoba untuk menjadi sukses, dengan tetap diiringi proses belajar dan mengeleminasi setiap kesalahan dari setiap percobaan yang sebelumnya mereka lakukan. Maka dengan mengetahui semua potensi kegagalan, artinya orang tersebut sudah mengetahui langkah-langkah apa saja yang bisa membawa mereka pada kegagalan. Dan tentu, dengan mengetahui hal tersebut, orang-orang sukses tersebut tidak akan melakukan langkah-langkah yang bisa membawa mereka pada kegagalan.

Maka, dari sini penulis menyimpulkan bahwa makna dari kalimat “menghabiskan jatah gagal” adalah terus berusaha tanpa kenal menyerah hingga akhirnya kita tau hal-hal apa saja yang bisa membuat kita gagal, maka akhirnya kita bisa mengetahui semua potensi kegagalan tersebut dan dapat menghindarkan kita dari kegagalan, yang mana akhirnya hal tersebutlah yang membawa kita pada kesuksesan. Hal ini tentu berbeda dengan makna tekstual dari “menghabiskan jatah gagal” berupa keyakinan asalkan kita terus berusaha tanpa kenal menyerah, asalkan hanya dengan bermodalkan terus mencoba, maka kita akan suskses.

Bahaya bila salah memahami kalimat “menghabiskan jatah gagal”
Ada beberapa potensi bila kita salah dalam memahami kalimat “menghabiskan jatah gagal”, dengan catatan potensi-potensi ini tidak akan terjadi pada orang yang “beruntung”. Potensi bahaya tersebut adalah :
1. Bila tidak dalam keadaan beruntung, maka orang tersebut akan terus menerus menemui kegagalan
2. Bila terus menerus menemui kegagalan, maka orang tersebut akan sampai pada titik paling sulit, di mana kesempatan pun tidak akan mudah didapat seperti sebelumnya
3. Bila orang tersebut terus menerus gagal, maka seumur hidupnya akan berada pada kesulitan
4. Bila orang tersebut seumur hidupnya barada dalam kesulitan, akan berpotensi keluarganyapun akan ikut terbebani

Hikmah
Dari kesimpulan penulis mengenai makna sesungguhnya dari kalimat “menghabiskan jatah gagal”, maka penulis bisa menarik beberapa hikmah, yakni :
1. Untuk bisa menghabiskan jatah gagal dan menjadi sukses, seseorang tersebut harus memiliki mental tidak mudah menyerah dan tetap terus berusaha
2. Untuk bisa menghabiskan jatah gagal dan menjadi sukses, seseorang tersebut tidak bisa hanya bermodalkan semangat terus berusaha tanpa menyerah. Namun juga harus disertai mental agar selalu belajar dan meng-evaluasi setiap kekurangan yang pernah dilakukan sebelumnya
3. Untuk bisa menghabiskan jatah gagal dan menjadi sukses, seseorang tersebut harus menyadari kekurangannya di setiap percobaannya sebelumnya dan berusaha untuktidak mengulangi kesalahannya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunis Bukanlah Sama Rata & Sama Rasa (Meluruskan Asumsi Tentang Komunis)

Pentingnya Menepati Sebuah Janji

Kenapa Valentino Rossi Memilih Nomor 46 Sebagai Nomor Balap Motornya?